Perempuan Lintas Perspektif
Hari ini saya telah masuk dalam suasana ingin melalukan kilas balik tentang masa lalu yang saya alami. Saya tumbuh dalam beragam lingkungan dengan perpektif yang tidak sama.
Berawal dari lingkungan masa kecil saya yang sangat konservatif. Saya bertemu dengan banyak orang yang berpikiran tentang makna perempuan begitu klasik.
Saat itu saya merasa harus membiarkan laki-laki menolong saya dalam hal hal kecil. Walaupun saya bisa melakukannya sendiri. Saya menganggap itu adalah sebuah perhatian dan kasih sayang. Banyak laki-laki yang merasa berperan karena bisa melakukan sesuatu untuk perempuan disekelilingnya. Terutama pasangan atau orang terdekatnya yaitu keluarga.
Lalu, semakin saya bertumbuh dewasa. Saya bertemu dengan pemikiriran yang bagi saya berubah dari lingkungan saya biasanya. Sangat terbuka. Perempuan mandiri adalah perempuan yang sangat banyak dicari oleh laki-laki saat ini.
Sejak kecil, meskipun saya tumbuh di budaya yang sangat konservatif dalam memandang perempuan. Tetapi saya adalah sosok perempuan dididik untuk mandiri.
Saya bersyukur karena kemandirian itu, saya tidak merasa terlalu terkejut dengan pandangan yang saya pelajari saat saya sudah cukup dewasa.
Tetapi ada satu pertanyaan saya dan keresahan saya yang masih belum terjawab, semakin banyak kemandirian dan keahlian yang dimiliki perempuan. Membuat semakin banyak laki-laki memiliki banyak kriteria dalam menentukan pasangan hidupnya kelak.
Saya melihat kini perempuan cantik atau baik saja tidaklah cukup. Bahkan perempuan cantik, baik dan bersekolah saja tidak cukup. Tapi perempuan itu juga harus cerdas sekaligus menyenangkan. Satu sisi ini menjadi kemerdekaan untuk kaum perempuan karena kami bisa lebih mengekspresikan diri kami sebagai manusia seutuhnya.
Tapi, bagaimana nasib perempuan yang masih memiliki pandangan klasik? Apakah mereka akan diinjak oleh pasangan mereka yang memiliki pemikiran terbuka?
Apakah akan tiba suatu waktu,
Perempuan malu berkata tidak tahu atau meminta laki-laki mengajarinya?
Apakah laki-laki kini mengharapkan bisa bertemu dengan perempuan, saat perempuan itu sudah cantik, sudah pintar, sudah punya banyak keahlian?
Lalu bagaimana kisah untuk pertemuan laki-laki penuh kriteria dengan perempuan yang masih merintis kecerdasannya dari bawah?
Apa masih ada laki-laki yang mau menerima perempuan itu?
Comments
Post a Comment